Menu Blog

Sabtu, 14 Mei 2011

N-250 Gatot Kaca


Pesawat N-250 adalah pesawat regional komuter turboprop rancangan asli IPTN 
N250.jpg(Sekarang PT Dirgantara Indonesia,PT DI,Indonesian Aerospace), Indonesia. Menggunakan kode N yang berarti Nusantara menunjukkan bahwa desain, produksi dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia atau bahkan Nurtanio, yang merupakan pendiri dan perintis industri penerbangan di Indonesia. berbeda dengan pesawat sebelumnya seperti CN-235 dimana kode CN menunjukkan CASA-Nusantara atau CASA-Nurtanio, yang berarti pesawat itu dikerjakan secara patungan antara perusahaan CASA Spanyol dengan IPTN. Pesawat ini diberi nama gatotkoco (Gatotkaca).
Pesawat ini merupakan primadona IPTN dalam usaha merebut pasar di kelas 50-70 penumpang dengan keunggulan yang dimiliki di kelasnya (saat diluncurkan pada tahun 1995). Menjadi bintang pameran pada saat Indonesian Air Show 1996 diCengkareng. Namun akhirnya pesawat ini dihentikan produksinya setelah krisis ekonomi 1997. Rencananya program N-250 akan dibangun kembali oleh B.J. Habibie setelah mendapatkan persetujuan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan perubahan di Indonesia yang dianggap demokratis. Namun untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan daya saing harga di pasar internasional, beberapa performa yang dimilikinya dikurangi seperti penurunan kapasitas mesin,dan direncanakan dihilangkannya Sistem fly-by wire.
Pertimbangan B.J. Habibie untuk memproduksi pesawat itu (sekalipun sekarang dia bukan direktur IPTN) adalah diantaranya karena salah satu pesawat saingannya Fokker F-50 sudah tidak diproduksi lagi sejak keluaran perdananya 1985, karena perusahaan industrinya, Fokker Aviation di Belanda dinyatakan gulung tikar pada tahun 1996.

Performa Pesawat

Gambar tiga sisi N-250
Pesawat ini menggunakan mesin turboprop 2439 KW dari Allison AE 2100 C buatan perusahaan Allison. Pesawat berbaling baling 6 bilah ini mampu terbang dengan kecepatan maksimal 610 km/jam (330 mil/jam) dan kecepatan ekonomis 555 km/jam yang merupakan kecepatan tertinggi di kelas turprop 50 penumpang. Ketinggian operasi 25.000 kaki (7620 meter) dengan daya jelajah 1480 km. (Pada pesawat baru, kapasitas mesin akan diturunkan yang akan menurunkan performa).

Berat dan Dimensi

  • Rentang Sayap : 28 meter
  • Panjang badan pesawat : 26,30 meter
  • Tinggi : 8,37 meter
  • Berat kosong : 13.665 kg
  • Berat maksimum saat take-off (lepas landas) : 22.000 kg
(Meski mesin N 250 diturunkan kemampuannya, dimensi tidak akan diubah)


Sejarah

Rencana pengembangan N-250 pertama kali diungkap PT IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia, Indonesian Aerospace) pada Paris Air Show1989. Pembuatan prototipe pesawat ini dengan teknologi fly by wire pertama di dunia dimulai pada tahun 1992. Pesawat pertama (PA 1, 50 penumpang) terbang selama 55 menit pada tanggal 10 Agustus 1995. Sedangkan PA2 (N250-100,68 penumpang) sedang dalam proses pembuatan.
Saingan pesawat ini adalah ATR 42-500, Fokker F-50 dan Dash 8-300.

CN-235

CN-235 adalah sebuah pesawat angkut turboprop kelas menengah bermesin dua. Pesawat ini dirancang bersama antara IPTNIndonesia dan CASA Spanyol. Pesawat ini saat ini menjadi pesawat paling sukses pemasarannya dikelasnya.
CN235 ASW ASuW MPA of the Turkish Navy.jpgCN-235 adalah pesawat terbang hasil kerja sama antara IPTN atau Industri Pesawat Terbang Indonesia (sekarang PT.DI) denganCASA dari Spanyol. Kerja sama kedua negara dimulai sejak tahun 1980 dan purwarupa milik Spanyol pertama kali terbang pada tanggal 11 November 1983, sedangkan purwarupa milik Indonesia terbang pertama kali pada tanggal 30 Desember 1983. Produksi di kedua negara di mulai pada tanggal Desember 1986. Varian pertama adalah CN-235 Series 10 dan varian peningkatan CN-235 Seri 100/110 yang menggunakan dua mesin General Electric CT7-9C berdaya 1750 shp bukan jenis CT7-7A berdaya 1700 shp pada model sebelumnya.

PT.Dirgantara Indonesia :

  • CN-235-10 :
    Versi produksi awal (diproduksi 15 buah oleh masing-masing perusahaan), menggunakan mesin GE CT7-7A
  • CN-235-110 :
    Secara umum sama dg seri 10 tetapi menggunakan mesin GE CT7-9C dalam nasel komposit baru ,mempunyai sistem kelistrikan, peringatan dan lingkungan yang lebih maju dibanding seri 100 milik CASA.
  • CN-235-220 :
    Versi Pengembangan. Pembentukan kembali struktur untuk bobot operasi yang lebih tinggi , pengambangan aerodinamik pada tepi depan sayap sayap dan kemudi belok, pengurangan panjang landasan yang dibutuhkan dan penambahan jarak tempuh dengan beban maksimum (MTOW=Maximum Take Off Weight)
  • CN-235 MPA :
    Versi Patroli Maritim, dilengkapi dengan sistem navigasi, komunikasi dan misi ( mulai mendekati fase operasional dan hadir dalamsingapore airshow 2008 ). Pada Desember 2009 diumumkan bahwa TNI AL membeli 3 unit CN-235 MPA sebagai baguian dari rencana memiliki 6 buah pesawat MPA sampai tahun 2014. CN-235 MPA menggunakan sistem Thales AMASCOS, radar pencari Thales/EADS Ocean Master Mk II , Penjejak panas (thermal imaging) dari Thales, Elettronica ALR 733 radar warning receiver dan CAE's AN/ASQ-508 magnetic anomaly detection system. Pesawat ini juga akan mengakomodasi Rudal Exocet MBDA AM-39 atau torpedo ringan Raytheon Mk 46.
  • CN235-330 Phoenix :
    Modifikasi dari seri 220, ditawarkan IPTN ( dengan avionik Honeywell baru, EW system ARL-2002 dan 16.800 kg MTOW ) kepada Royal Australian Air Force untuk Project Air 5190 tactical airlift requirement, tapi dibatalkan karena masalah keuangan pada tahun 1998


EADS CASA :

  • CN-235-10 :
    Versi produksi awal (diproduksi 15 buah oleh masing-masing perusahaan), menggunakan mesin GE CT7-7A
  • CN-235-100 :
    Secara umum sama dengan seri 10 tetapi menggunakan mesin GE CT7-9C dalam nasel komposit baru
  • CN-235-200 :
    Versi Pengembangan dengan pembentukan kembali struktur pesawat untuk bobot operasi yang lebih tinggi , pengambangan aerodinamik pada tepi depan sayap dan kemudi belok, pengurangan panjang landasan yang dibutuhkan serta penambahan jarak tempuh dengan beban maksimum
  • CN-235-300 :
    Modifikasi CASA pada seri 200,dengan avionik Honeywell. Kelebihan lain termasuk pengembangan sistem tekanan dan fasilitas instalasi opsional roda depan ganda.
  • CN-235 ASW/ASuW/MPA :
    Versi Maritim
  • C-295 :
    Versi dengan badan lebih panjang, beban 50% lebih banyak dan mesin baru PW127G

Spesifikasi (CN-235-100/110)

Karakteristik Umum

  • Kru: 2(dua) pilots
  • Kapasitas: sampai 45 penumpang
  • Panjang: 21.40 m (70 ft 3 in)
  • Bentang sayap: 25.81 m (84 ft 8 in)
  • Tinggi: 8.18 m (26 ft 10 in)
  • Area sayap: 59.1 m² (636 ft²)
  • Berat Kosong: 9,800 kg (21,605 lb)
  • Berat Isi: 15,500 kg (16,500 kg Military load) ( lb)
  • Maksimum takeoff: 15,100 kg (33,290 lb)
  • Tenaga Penggerak: 2× General Electric CT79C turboprops, 1,395 kW (1,850 bhp) each

    Kemampuan

    • Kecepatan Maksimum: 509 km/j (317 mpj)
    • Jarak: 796 km (496 mil)
    • Ketinggian Maks: m ( ft)
    • Daya Menanjak: 542 m/min (1,780 ft/min)
    • Beban Sayap Maks: kg/m² ( lb/ft²)
    • Power/berat: kW/kg ( hp/lb)


    Operator Militer

    EADS CASA CN-235.svg
    • Botswana Air Force
    • Tentera Udara Diraja Brunei (1)
    • Chilean Air Force
    • Colombian Air Force
    • Ecuadorian Air Force
    • French Air Force
    • Gabonese Air Force
    • Irish Air Corps (2 x CN235MP)
    • Tentera Udara Diraja Malaysia (8 x CN235-220)
    • Moroccan Air Force
    • Pakistan Air Force (4 x CN235-220)
    • Panama
    • Papua New Guinea
    • Royal Saudi Air Force
    • South African Air Force
    • South Korean Air Force (20)
    • Thai Air Force (10 dipesan dari IPTN/DI)
    • TNI AU
    • Turkish Air Force
    • UAE Navy
    •  Amerika Serikat: U.S. Coast Guard sebagai HC-144A untuk program Medium Range Surveillance Maritime Patrol Aircraft (MRSMPA)


Rabu, 04 Mei 2011

INDONESIA 7 SUMMITS


                           Perjalanan pendakian Tim “Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar” menuju Puncak   Everest telah menginjak hari ke-31. Sementara proses aklimatisasi tim pendaki terus berlangsung, tim pendukung akan segera berangkat menuju Everest Base Camp (EBC) yang terletak pada ketinggian 5.300 mdpl. Tim pendukung akan membantu tim pendaki, terutama dalam bidang dokumentasi dan komunikasi dari lapangan ke tanah air. Tim pendukung akan tinggal di EBC dan me-relay laporan tim pendaki langsung ke Indonesia, saat tim pendaki menjalankan summit attack. Tim pendukung yang terdiri dari Ambrin Siregar (60), Alfa Febrianto (44), Edward Balandua (21), Yessie Agusta (22), Panji Haryadi (28), dan Ariesto Wibowo (23) akan berangkat menuju Kathmandu pada Hari Rabu 27 April 2011 dari Bandara Soekarno-Hatta.
Sampai dengan tanggal 30 April 2011, tim pendukung akan tinggal di Kathmandu untuk mengurus administrasi, melengkapi peralatan komunikasi, serta melakukan koordinasi akhir dengan agen perjalanan yang akan mengantarkan mereka menuju EBC. Mengawali Bulan Mei, tim pendukung akan memulai trekking menuju EBC yang menurut rencana akan dicapai pada tanggal 10 Mei 2011. Selama kurang lebih 10 hari, tim pendukung akan berjalan kaki dari Lukla (2.886 mdpl) melewati desa Phakding (2.640 mdpl), lalu menuju Namche Bazaar (3.440 mdpl) sebagai titik awal aklimatisasi. Setelah menjalankan aklimatisasi selama 24 jam, tim pendukung akan kembali melanjutkan perjalanan melalui Tyangboche (3.867 mdpl), Dingboche (4.260 mdpl), melintasi Gunung Chhukung (5.546 mdpl), Desa Lobuche (4.930 mdpl), dan Gunung Kala Patthar (5.545 mdpl), kemudian menuju Gorakshep (5.180 mdpl) sebagai desa terakhir sebelum mencapai EBC. Di Gorakshep sinyal telepon seluler akan terasa paling kuat karena terdapat menara provider telepon seluler Ncell. Selama kurang lebih dua minggu di EBC, tim pendukung akan mengirim data dokumentasi lapangan ke Indonesia (foto, video) dari Gorakshep. Perjalanan turun dari EBC menuju Gorakshep memakan waktu sekitar 2 jam, sedangkan untuk naik kembali menuju EBC akan menghabiskan 3 sampai 4 jam berjalan kaki.
Puncak Everest akan menjadi puncak keenam yang akan digapai oleh Tim ISSEMU dari rangkaian tujuh puncak dunia. Adapun dari 7 puncak yang dituju, kelima puncak yang telah dicapai adalah Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) pada 23 dan 26 Februari 2009 di Indonesia (Australasia); Kilimanjaro (5.895 mdpl) via Machame pada 10 Agustus 2010 di Kenya (Afrika); Elbrus (5.642 mdpl) via Rute Utara di Rusia (Eropa) pada 24 Agustus 2010; Vinson (4.897 mdpl) di Antartika pada 13 Desember 2010 dan Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina (Amerika Selatan) pada 9 dan 29 Januari 2011; selanjutnya puncak terakhir yang akan dicapai adalah Denali (6.194 mdpl) di Alaska (Amerika Utara).
                                      Rangkaian kegiatan Indonesia 7 Summits Expedition Mahitala Unpar 2009-2012 (ISSEMU) ini mendapat dukungan dana dan perhatian penuh PT. Mud King Asia Pasifik Raya (MKAPR), sebuah perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas bumi. PT MKAPR yang berkedudukan di Jakarta memiliki komitmen yang sangat tinggi sebagai sponsor tunggal untuk mensukseskan rangkaian pendakian ke 7 puncak tertinggi di 7 benua (seven summits), melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) dengan tujuan menorehkan prestasi bangsa Indonesia di bidang olah raga pendakian gunung, juga membangkitkan kembali rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air tercinta, Indonesia.

Senin, 02 Mei 2011

Mau Buat Sahara jadi Hutan

Pada tahun 2008, sebuah proposal Sahara Forest Project, sebuah solusi berkesinambungan luar biasa bagi kelangkaan sumber daya yang akan mengubah padang gurun Sahara menjadi sumber makanan, air, dan energi. Norwegia dan Yordania baru-baru ini menanda tangani kesepakatan untuk pengembangan sistem perintis Sahara Forest Project di sejengkal lahan di kawasan pantai di Yordania. Kelompok ini juga akan melakukan sejumlah penelitian di Yordania, dengan dukungan finansial dari otoritas Norwegia



Lokasi ujicoba yang dipilih adalah lahan seluas 200 ribu meter persegi di Aqaba, sebuah kota pesisir di selatan Yordania, dekat dengan pantai Laut Merah. Perjanjian ini juga mengamankan sebuah lahan tambahan seluas 2 juta meter persegi untuk ekspansi berikutnya. Sahara Forest Project menggabungkan Concentrated Solar Power (CSP) dan rumah kaca air laut untuk menyediakan energi terbaharui dan solusi agrikultural berkesinambungan dalam jumlah besar, pada dasarnya mengubah salah satu lingkungan paling tidak ramah menjadi oasis yang subur



Rumah kaca air laut menggunakan tenaga surya untuk mengubah air laut menjadi air segar yang kemudian digunakan untuk menyirami sayuran dan ganggang segar (untuk menyerap CO2). CSP menyediakan energi untuk menghidupkan seluruh operasi. CSP menggunakan ribuan cermin untuk mengarahkan cahaya matahari ke sebuah pemanas air, memanaskannya sampai suhu 1000 Fahrenheit lebih. Pemanas ini memproduksi uap, yang menggerakkan sebuah turbin untuk menciptakan energi



Sahara Forest Project diciptakan oleh arsitek biomimikri Michael Pawlyn, desainer rumah kaca air laut Charlie Paton, dan insinyur struktur Bill Watts. Pada tahun 2009, trio ini bergabung dengan Bellona, sebuah NGO lingkungan internasional yang berbasis di Norwegia, dan mempresentasikan proposal mereka di COP15 pada bulan Desember 2009. Umpan balik positif membawa lebih banyak presentasi, termasuk satu presentasi di Oslo Juni tahun lalu, dihadiri oleh Yang Mulia Raja Abdullah II dari Yordania. Raja begitu terkesan dengan proyek ini sampai dia mengundang tim SFP ke Yordania pada bulan Oktober untuk mendiskusikan studi kelayakan yang membuka pintu untuk kesepakatan ini



Tim SFP akan melakukan penelitian mendalam tahun ini dan mengembangkan sebuah pusat demonstrasi pada tahun 2012. Pengembangan komersil mungkin akan dimulai pada tahun 2015. Menurut tim ini, fasilitas-fasilitas seperti di Aqaba memiliki potensi yang besar yang menguntungkan lingkungan. Mereka bisa mengurangi masalah kekurangan makanan dan air, menghasilkan biofuel tanpa bersaing dengan produksi pangan, dan berkontribusi untuk usaha penghijauan di area-area padang gurun. Ditambah produksi tumbuh-tumbuhan akan menyerap karbon dioksida dan mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfir.

Proses Pembuatan M-16

M-16 adalah salah satu sejata otomatis yang sering di gunakan para militer dalam menjaga kedaulatan sebuah negara, senjata inipun sangat populer digunakan dikalangan militer seluruh dunia, dan kini kita sedikit melirik proses pembuatannya.















 

Foto Kucing Narsis

Kucing, Siapa yang tidak tau binatang peliharaan imut berbulu lembut ini, dan terkadang perilakunya juga tidak kalah menggemaskan dan bikin kita tertawa, seperti yang ada di foto-foto berikut ini





















Rumah Di atas Becak

Wajarnya sebuah bejak tentu saja digunakan untuk alat transportasi paling digemari masyarat karena murah dan efisien, namun ditangan seorang pria sebuah becak disulap menjadi rumah keliling dan dapat dihuni juga, bagaimana bentuknya? mari kita lihat gambar dibawah ini













 

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews