Menu Blog

Tampilkan postingan dengan label Bangga IndonesiAku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bangga IndonesiAku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Mei 2011

N-250 Gatot Kaca


Pesawat N-250 adalah pesawat regional komuter turboprop rancangan asli IPTN 
N250.jpg(Sekarang PT Dirgantara Indonesia,PT DI,Indonesian Aerospace), Indonesia. Menggunakan kode N yang berarti Nusantara menunjukkan bahwa desain, produksi dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia atau bahkan Nurtanio, yang merupakan pendiri dan perintis industri penerbangan di Indonesia. berbeda dengan pesawat sebelumnya seperti CN-235 dimana kode CN menunjukkan CASA-Nusantara atau CASA-Nurtanio, yang berarti pesawat itu dikerjakan secara patungan antara perusahaan CASA Spanyol dengan IPTN. Pesawat ini diberi nama gatotkoco (Gatotkaca).
Pesawat ini merupakan primadona IPTN dalam usaha merebut pasar di kelas 50-70 penumpang dengan keunggulan yang dimiliki di kelasnya (saat diluncurkan pada tahun 1995). Menjadi bintang pameran pada saat Indonesian Air Show 1996 diCengkareng. Namun akhirnya pesawat ini dihentikan produksinya setelah krisis ekonomi 1997. Rencananya program N-250 akan dibangun kembali oleh B.J. Habibie setelah mendapatkan persetujuan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan perubahan di Indonesia yang dianggap demokratis. Namun untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan daya saing harga di pasar internasional, beberapa performa yang dimilikinya dikurangi seperti penurunan kapasitas mesin,dan direncanakan dihilangkannya Sistem fly-by wire.
Pertimbangan B.J. Habibie untuk memproduksi pesawat itu (sekalipun sekarang dia bukan direktur IPTN) adalah diantaranya karena salah satu pesawat saingannya Fokker F-50 sudah tidak diproduksi lagi sejak keluaran perdananya 1985, karena perusahaan industrinya, Fokker Aviation di Belanda dinyatakan gulung tikar pada tahun 1996.

Performa Pesawat

Gambar tiga sisi N-250
Pesawat ini menggunakan mesin turboprop 2439 KW dari Allison AE 2100 C buatan perusahaan Allison. Pesawat berbaling baling 6 bilah ini mampu terbang dengan kecepatan maksimal 610 km/jam (330 mil/jam) dan kecepatan ekonomis 555 km/jam yang merupakan kecepatan tertinggi di kelas turprop 50 penumpang. Ketinggian operasi 25.000 kaki (7620 meter) dengan daya jelajah 1480 km. (Pada pesawat baru, kapasitas mesin akan diturunkan yang akan menurunkan performa).

Berat dan Dimensi

  • Rentang Sayap : 28 meter
  • Panjang badan pesawat : 26,30 meter
  • Tinggi : 8,37 meter
  • Berat kosong : 13.665 kg
  • Berat maksimum saat take-off (lepas landas) : 22.000 kg
(Meski mesin N 250 diturunkan kemampuannya, dimensi tidak akan diubah)


Sejarah

Rencana pengembangan N-250 pertama kali diungkap PT IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia, Indonesian Aerospace) pada Paris Air Show1989. Pembuatan prototipe pesawat ini dengan teknologi fly by wire pertama di dunia dimulai pada tahun 1992. Pesawat pertama (PA 1, 50 penumpang) terbang selama 55 menit pada tanggal 10 Agustus 1995. Sedangkan PA2 (N250-100,68 penumpang) sedang dalam proses pembuatan.
Saingan pesawat ini adalah ATR 42-500, Fokker F-50 dan Dash 8-300.

CN-235

CN-235 adalah sebuah pesawat angkut turboprop kelas menengah bermesin dua. Pesawat ini dirancang bersama antara IPTNIndonesia dan CASA Spanyol. Pesawat ini saat ini menjadi pesawat paling sukses pemasarannya dikelasnya.
CN235 ASW ASuW MPA of the Turkish Navy.jpgCN-235 adalah pesawat terbang hasil kerja sama antara IPTN atau Industri Pesawat Terbang Indonesia (sekarang PT.DI) denganCASA dari Spanyol. Kerja sama kedua negara dimulai sejak tahun 1980 dan purwarupa milik Spanyol pertama kali terbang pada tanggal 11 November 1983, sedangkan purwarupa milik Indonesia terbang pertama kali pada tanggal 30 Desember 1983. Produksi di kedua negara di mulai pada tanggal Desember 1986. Varian pertama adalah CN-235 Series 10 dan varian peningkatan CN-235 Seri 100/110 yang menggunakan dua mesin General Electric CT7-9C berdaya 1750 shp bukan jenis CT7-7A berdaya 1700 shp pada model sebelumnya.

PT.Dirgantara Indonesia :

  • CN-235-10 :
    Versi produksi awal (diproduksi 15 buah oleh masing-masing perusahaan), menggunakan mesin GE CT7-7A
  • CN-235-110 :
    Secara umum sama dg seri 10 tetapi menggunakan mesin GE CT7-9C dalam nasel komposit baru ,mempunyai sistem kelistrikan, peringatan dan lingkungan yang lebih maju dibanding seri 100 milik CASA.
  • CN-235-220 :
    Versi Pengembangan. Pembentukan kembali struktur untuk bobot operasi yang lebih tinggi , pengambangan aerodinamik pada tepi depan sayap sayap dan kemudi belok, pengurangan panjang landasan yang dibutuhkan dan penambahan jarak tempuh dengan beban maksimum (MTOW=Maximum Take Off Weight)
  • CN-235 MPA :
    Versi Patroli Maritim, dilengkapi dengan sistem navigasi, komunikasi dan misi ( mulai mendekati fase operasional dan hadir dalamsingapore airshow 2008 ). Pada Desember 2009 diumumkan bahwa TNI AL membeli 3 unit CN-235 MPA sebagai baguian dari rencana memiliki 6 buah pesawat MPA sampai tahun 2014. CN-235 MPA menggunakan sistem Thales AMASCOS, radar pencari Thales/EADS Ocean Master Mk II , Penjejak panas (thermal imaging) dari Thales, Elettronica ALR 733 radar warning receiver dan CAE's AN/ASQ-508 magnetic anomaly detection system. Pesawat ini juga akan mengakomodasi Rudal Exocet MBDA AM-39 atau torpedo ringan Raytheon Mk 46.
  • CN235-330 Phoenix :
    Modifikasi dari seri 220, ditawarkan IPTN ( dengan avionik Honeywell baru, EW system ARL-2002 dan 16.800 kg MTOW ) kepada Royal Australian Air Force untuk Project Air 5190 tactical airlift requirement, tapi dibatalkan karena masalah keuangan pada tahun 1998


EADS CASA :

  • CN-235-10 :
    Versi produksi awal (diproduksi 15 buah oleh masing-masing perusahaan), menggunakan mesin GE CT7-7A
  • CN-235-100 :
    Secara umum sama dengan seri 10 tetapi menggunakan mesin GE CT7-9C dalam nasel komposit baru
  • CN-235-200 :
    Versi Pengembangan dengan pembentukan kembali struktur pesawat untuk bobot operasi yang lebih tinggi , pengambangan aerodinamik pada tepi depan sayap dan kemudi belok, pengurangan panjang landasan yang dibutuhkan serta penambahan jarak tempuh dengan beban maksimum
  • CN-235-300 :
    Modifikasi CASA pada seri 200,dengan avionik Honeywell. Kelebihan lain termasuk pengembangan sistem tekanan dan fasilitas instalasi opsional roda depan ganda.
  • CN-235 ASW/ASuW/MPA :
    Versi Maritim
  • C-295 :
    Versi dengan badan lebih panjang, beban 50% lebih banyak dan mesin baru PW127G

Spesifikasi (CN-235-100/110)

Karakteristik Umum

  • Kru: 2(dua) pilots
  • Kapasitas: sampai 45 penumpang
  • Panjang: 21.40 m (70 ft 3 in)
  • Bentang sayap: 25.81 m (84 ft 8 in)
  • Tinggi: 8.18 m (26 ft 10 in)
  • Area sayap: 59.1 m² (636 ft²)
  • Berat Kosong: 9,800 kg (21,605 lb)
  • Berat Isi: 15,500 kg (16,500 kg Military load) ( lb)
  • Maksimum takeoff: 15,100 kg (33,290 lb)
  • Tenaga Penggerak: 2× General Electric CT79C turboprops, 1,395 kW (1,850 bhp) each

    Kemampuan

    • Kecepatan Maksimum: 509 km/j (317 mpj)
    • Jarak: 796 km (496 mil)
    • Ketinggian Maks: m ( ft)
    • Daya Menanjak: 542 m/min (1,780 ft/min)
    • Beban Sayap Maks: kg/m² ( lb/ft²)
    • Power/berat: kW/kg ( hp/lb)


    Operator Militer

    EADS CASA CN-235.svg
    • Botswana Air Force
    • Tentera Udara Diraja Brunei (1)
    • Chilean Air Force
    • Colombian Air Force
    • Ecuadorian Air Force
    • French Air Force
    • Gabonese Air Force
    • Irish Air Corps (2 x CN235MP)
    • Tentera Udara Diraja Malaysia (8 x CN235-220)
    • Moroccan Air Force
    • Pakistan Air Force (4 x CN235-220)
    • Panama
    • Papua New Guinea
    • Royal Saudi Air Force
    • South African Air Force
    • South Korean Air Force (20)
    • Thai Air Force (10 dipesan dari IPTN/DI)
    • TNI AU
    • Turkish Air Force
    • UAE Navy
    •  Amerika Serikat: U.S. Coast Guard sebagai HC-144A untuk program Medium Range Surveillance Maritime Patrol Aircraft (MRSMPA)


Rabu, 04 Mei 2011

INDONESIA 7 SUMMITS


                           Perjalanan pendakian Tim “Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar” menuju Puncak   Everest telah menginjak hari ke-31. Sementara proses aklimatisasi tim pendaki terus berlangsung, tim pendukung akan segera berangkat menuju Everest Base Camp (EBC) yang terletak pada ketinggian 5.300 mdpl. Tim pendukung akan membantu tim pendaki, terutama dalam bidang dokumentasi dan komunikasi dari lapangan ke tanah air. Tim pendukung akan tinggal di EBC dan me-relay laporan tim pendaki langsung ke Indonesia, saat tim pendaki menjalankan summit attack. Tim pendukung yang terdiri dari Ambrin Siregar (60), Alfa Febrianto (44), Edward Balandua (21), Yessie Agusta (22), Panji Haryadi (28), dan Ariesto Wibowo (23) akan berangkat menuju Kathmandu pada Hari Rabu 27 April 2011 dari Bandara Soekarno-Hatta.
Sampai dengan tanggal 30 April 2011, tim pendukung akan tinggal di Kathmandu untuk mengurus administrasi, melengkapi peralatan komunikasi, serta melakukan koordinasi akhir dengan agen perjalanan yang akan mengantarkan mereka menuju EBC. Mengawali Bulan Mei, tim pendukung akan memulai trekking menuju EBC yang menurut rencana akan dicapai pada tanggal 10 Mei 2011. Selama kurang lebih 10 hari, tim pendukung akan berjalan kaki dari Lukla (2.886 mdpl) melewati desa Phakding (2.640 mdpl), lalu menuju Namche Bazaar (3.440 mdpl) sebagai titik awal aklimatisasi. Setelah menjalankan aklimatisasi selama 24 jam, tim pendukung akan kembali melanjutkan perjalanan melalui Tyangboche (3.867 mdpl), Dingboche (4.260 mdpl), melintasi Gunung Chhukung (5.546 mdpl), Desa Lobuche (4.930 mdpl), dan Gunung Kala Patthar (5.545 mdpl), kemudian menuju Gorakshep (5.180 mdpl) sebagai desa terakhir sebelum mencapai EBC. Di Gorakshep sinyal telepon seluler akan terasa paling kuat karena terdapat menara provider telepon seluler Ncell. Selama kurang lebih dua minggu di EBC, tim pendukung akan mengirim data dokumentasi lapangan ke Indonesia (foto, video) dari Gorakshep. Perjalanan turun dari EBC menuju Gorakshep memakan waktu sekitar 2 jam, sedangkan untuk naik kembali menuju EBC akan menghabiskan 3 sampai 4 jam berjalan kaki.
Puncak Everest akan menjadi puncak keenam yang akan digapai oleh Tim ISSEMU dari rangkaian tujuh puncak dunia. Adapun dari 7 puncak yang dituju, kelima puncak yang telah dicapai adalah Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) pada 23 dan 26 Februari 2009 di Indonesia (Australasia); Kilimanjaro (5.895 mdpl) via Machame pada 10 Agustus 2010 di Kenya (Afrika); Elbrus (5.642 mdpl) via Rute Utara di Rusia (Eropa) pada 24 Agustus 2010; Vinson (4.897 mdpl) di Antartika pada 13 Desember 2010 dan Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina (Amerika Selatan) pada 9 dan 29 Januari 2011; selanjutnya puncak terakhir yang akan dicapai adalah Denali (6.194 mdpl) di Alaska (Amerika Utara).
                                      Rangkaian kegiatan Indonesia 7 Summits Expedition Mahitala Unpar 2009-2012 (ISSEMU) ini mendapat dukungan dana dan perhatian penuh PT. Mud King Asia Pasifik Raya (MKAPR), sebuah perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas bumi. PT MKAPR yang berkedudukan di Jakarta memiliki komitmen yang sangat tinggi sebagai sponsor tunggal untuk mensukseskan rangkaian pendakian ke 7 puncak tertinggi di 7 benua (seven summits), melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) dengan tujuan menorehkan prestasi bangsa Indonesia di bidang olah raga pendakian gunung, juga membangkitkan kembali rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air tercinta, Indonesia.

Senin, 02 Mei 2011

7 Pelawak Indonesia yg Berpenampilan Palsu

1. Aziz Gagap
http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR4Jd58goJvNaE-GFhpj_-Fyy8NyPtYgeS_he1VyOSyKWoQbzNe
Banyak yang mengira kalau Aziz memang benar-benar gagap, namun ia gagap hanya saat melawak saja. Ide gagap yang didapatkan bermula saat ia mendapatkan peran gagap dan ia pun langsung menguasainya hanya dalam 5 menit saja.

2. Jojon
http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTd_2ewwt26fNh8LOUQuwiNZIt0k57Kw4hMFZTqO__HuDyD1rbY
Mendengar nama Jojon mungkin sudah tidak asing lagi di telinga Anda. Penampilannya yang sangat khas, yakni dengan memakai celana yang sangat tinggi sampai melebihi pusar membuat daya tarik tersendiri untuknya. Ditambah dengan kumis kecil persegi panjang yang menempel di bawah hidungnya. Tahukah Anda kalau Jojon hanya menggunakan kumis palsu dalam setiap penampilannya.

3. Nycta Gina (Jeng Kellin)
http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSxXJSx-I25IA64WYYv7eY0Vg14388wva0cJoO9L6AHTPgemXkT
Penampilan Jeng Kellin yang seperti anak kecil tidak seperti kehidupan aslinya. Dalam kehidupannya, Nycta Gina adalah wanita yang pintar. Terbukti walaupun telah sukses dengan perannya sebagai Jeng Kellin, Nycta Gina sangat berambisi untuk menjadi dokter.

4. H. Bolot
http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQCcn13bh-Q4pCRaDOjwwxP6mkHBMrIikQ7ICW_rUC9Sg5QJJF-
Karena tingkahnya seperti orang tuli, pelawak bernama asli (cari nama asli pelawak haji bolot..) ini sering disapa bolot dan digunakan sebagai namanya sebgai pelawak. Tingkahnya yang "bolot" tidak berlaku bila ia sedang berkomunikasi dengan wanita cantik.

5. Komeng
http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ1aCPs_XkCLoC_Dd9AVF3LF57Tpx1P4qXQ_KYKYvIMfpVWE_vjfg
Candaan yang spontan dan tidak pernah tertawa saat melawak merupakan ciri khas tersendiri pelawak bernama asli Alfiansyah ini. Suara yang agak bindeng sebenarnya hanya digunakan saat melawak saja. Meskipun terlihat tidak pernah serius, Komeng akan terlihat serius bila diwawancarai atau bila sedang ada di rumah.

6. Parto
data:image/jpg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wBDAAkGBwgHBgkIBwgKCgkLDRYPDQwMDRsUFRAWIB0iIiAdHx8kKDQsJCYxJx8fLT0tMTU3Ojo6Iys/RD84QzQ5Ojf/2wBDAQoKCg0MDRoPDxo3JR8lNzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzf/wAARCADMAIkDASIAAhEBAxEB/8QAHAAAAQUBAQEAAAAAAAAAAAAABAECAwUGBwAI/8QAQRAAAgEDAgMGBAQEAwUJAAAAAQIDAAQRBSESMUEGEyJRYXEUMoGRB0JSoRWx0fAWI8EkM2KS4TRDVWNygqLS8f/EABkBAAIDAQAAAAAAAAAAAAAAAAABAgMEBf/EACERAAICAgMAAwEBAAAAAAAAAAABAhEDMQQSIRMiQVEy/9oADAMBAAIRAxEAPwDnSqKeAKghkZ1Xy61Ir5B23qwR53UbZrzyY4TQUmSx23qdwVjQHdqACc7ZoSaYmZUTr1qck8J26VXTSdzKJOZA5UAElR+dsn1NRSTQw8yAaCubnvMcPI/cUIRxHJ396iMsv4jD/wAX0FSJdRSDIbf1qpCnPlT0AOfFwn15UAW+cjakqujuJo3yTxbdaL7x3gMkWGwfEnl7UwHM2KhaTFRPPkAkEZ86HaQmgAoyUnHQfGc0vGRSAJ4qXNDCSl7ygC+tD4MCpsESkAbVFapwJlhUwRmn4gdsVIiMkRe8bK9Kk7rjOemKSRNsHmTUyEbJ5UAQOcFgegqpuvGf61dSgBGycZ2zVRcBOHhfOTyFAytI3ry5zgUe2nTLbfEADgUgHz3pslsEkV1U8DfsOtRHTBSGTcgnyzyNPiKs4EgAB55otLWSK5Twca/zFWTaTFtKko7knPi2IH9aAoppowiDDZUHY9R70Xp0TRjvc+Hkwzj+xUsxtgeBMOVBz64/6dKbFOUjKRRMT5rvke3nUhAVwndzEhMKd2QnIBoWdDG5GMA7j2qWVHHiycHfA6Us8vfQKoUjgGw8geePTO9JgC4r2KXGCaQikMbXqWvUAafiXgBB6CpbdxxVUCdB1OKlivEVxuakRLYDilPLAG1MkVlbIoJL5CxOTUyXqsm5PFQAzUJuCONWHM1Xwq890hb8zYH9KMvnWWJVHPiG9R2xEcsT/kMg/v7UDNubOI6U8QjViYzsPahtM0VL/TImhQZHEAzdQCef8qP0ie5uwgsrZio27xl2PoK0mhRpYR/C934izFfqc1klJxN8IRmYObQ7+yAE1sSnJXDD7/370l5YPdxKAHgcfMxYMv8Ay8xW81uSEy8Lx98eWX+Vfr99h+1Ubvp8Xd/FRunfHEXcxYVsHBweZ+9WRn2Kp4lH1GGu+y1/AO9g4J15ng2J+lDKvDhZonhlHM45+42roxs7eRWisJ5Yi8hwzfpxuOE9c4396q9S0Wd43WScSYGRxxDP3BprJXjIvFatIwt7K7BS5ViMgsuxOfOoowfhu84OJMcLDoN//wAqeeMuJFlwsiHxEDnQx4o1YDYOM8Pn/eauM4IRj26V6lIxz96SojGsKbipMV7FAF6tjDzwT71KtpAPyCgY9QIYZ3FWMMqygYNAhRFGPyCnhVHJVz7UteoGD3kXeQHCjK+IAdaFFtJHBBNPgBwWjwwPI4wccj6VZHzoONFa8jtcZDOpTf5WJIJ9uX2FMRr0nvWhMens3gYR4d2GRjcjBA51bxNcLdQJI5Vo8MeIknljBz671NptpcQRKVWFAeTFyx+3CKIWwmbUEIPE7AHYYG3QfU1kcvw6McfiPXzST3DNc8TRuPEwGemNwPTb6V63tI5D3ccUszfk4o8KPq3L6UX3VzE5IgMgBweE8vOrKzUTIHhbwkA4bn7VC2i7otFSdIlz306qnQBRsP6++3tQGof5I4T7Vrr2YJCq4HkR/rWX1iLIyPMii/RNUjlmuLwahNIo8JYn3HKhUjLxoh5/KPsau9fg4ZH5cIG386rbYC3t5bm4GCyEQr+pm2J+gJrYpfVHNlH7MqZ8ZT/0AZqKp7kYYA+VQVIger1er1IB9GadKVuAudjQeKmtP+0JQI0FLXhvivUAIaEvgU7ueLaSM9PKiJJFTmcUDcTZJ4W28vOmB1HszqMeoWELk523H9+tWWo3Ci7VkYhlwoK/yrnHYrU1gna3DY4slVzy23rWTXBilViOeOEnzrJOHWXh0cWTtBF0IYZJVuCGMy5w7MRt7CjLNmibOSdyT9aqYbmfOFC5Zcnrmp4rm4eZMwod92UkYqDTL6aLG8kDDY+IHNV9/wCKMk4x0FGTgFcjnuKrruQCEFuQ5etV7G34YrtUrRW6yqufFvnkR5VkNQv7nUHhaYoI0GI0RcKgJ6Vtu0g721bngKx/+JrB28qrEOJc45ZrZipo5ue1IilPjIByAcD2phNObcnFMNXFJ7NJmkr1IAjFGafbs8nH0FBg5FXWlkGDC9PKgQX7V6lr1AEM8RkXA51S3KPG/C1aA7CqS6V5HZ8eEGmgIbaaSCdZojh0OVro+lX8Wq6bGQCCrYI6g+VczxV52W1F7bUO6XdZRgr5t0/1qGSNosxT6yOpWdrGeEq5I5e9XPw5SMcKYAFUGmaihjV1ZfDsQenpVlL2gt0iPG6A4555VkcWdL5EOucLERy2O9Z/Up+/dbeHcjHER0p11c3uqN/s8bR2/wCtxjPt/WidN0wRLxscsKhSiFuWio1a1zZMCN+Bh+1ctI4UQZ/LXZ9XhxbPgdK4xcxNBO8bDGDt7Vo472ZOUvUNFI1JnG1eJrQZRCKSlJpKQBAGNuvlRunXHdPwk+E1NeWfeFyi8Mq/MvnVauR71NojZoweo5U6quxuzkI52qzztnO1IAe7nMfgX5vOgmBkBBc5POpL9SZuJSDkedD8DAbnDVJLwTYyW3MbY33r1sWhuYpVyCjg/vUxkYpwnHnnFJF1J3OKOo06Z0BrITIJohg9SpxmrPSLay2aSESSA5HGc4+9Q9mGSfS4GJB8IyQevlVpaRCORhwgjOzYrnSk02jqQSaTQW8LyEcIVV9aLS2WOLC+I/qoi3iVlGW28qmmCqOFQAKrLbKDUogYWB/NtXPTpENw9wbqMvEz8MUgHltt9c1uu1F9bwYtpLqOADeaQt8inoBzLHoBy5+VYbXu06XCfC6TGYLdV4e8PzMPTyH7+1W4scnozZZx/TNarpkNncNDBMJMc8c19D0zVY6cBxnNFSSHBwd+tQE551uqlRgbt2QGm5HnU5APMUnAvlSoLNhcWxD8L/72E92W5ZB+Un+VU2r2LW/BcKB3cu525Gtfq0XFeyKq/PbMfqpyKEaKG5067jmZVVcuGP5QQCKsl6RMZErM/hxkdaNeSXhVOMkDqNqfbW3hweZ69TTp4wr4Hn/pTSE2D8ORnrTiM743qYJtTOHfFMREds0xH4alIBb2phUE0Egi0vrm0Ja1uJYc8+ByM1bW/azWYdluw4/8yNW/0zVABinVBwi9okpyWmagdvNcUYWS3B8xAP60Jedse0Fxv/EZFyeUSqmPsM1Qmmkml8cf4P5Jf0fNcSzStLM7PIxJZ2OST70O5zsNqeaaaZAixtikCZOKkI3pUHjBoGM7nO9L3NEAeGkxRQHRL62muhDfWJil4UkQKW+foftWH1K9lg/yJOIEgBkPpsM11ax7KXXZ6xdrrUrK54X/ANxFICyA8yOWd6p+0HZOz1cGWAMlwN+JR83vWb5WpfbRoWBTgpR2c/ik7xMo3rt0pZs5HrW30DsdpUd6EupbhZDjhjmwFY9cY2P97VotQ7BaXdxkCFoyOTQsQRU3yYp0JcWbVnKC3hUbetMY43rU6l+HmoW0jNYXYkjxylXf7igdI0WxnvPg9Y1RrGQnHELbjUH18Y2+lXQyRlopnjlDaKAbn3pp2rX9rfw/1XsxCLx3jvdOYjF1ADhc8uIdM+e49ai7UdgtV7OaRBql/LaGGVlRUjdi4JUtuCB0BqVoiZM0vIb7ehp/CiKHmYheLHCFznz6+VGW+ntqc9ylmD3yEMUkZIweI4wCW3OSMDrmgCuO9JWl17sL2j0Cy+O1LT+C2BAZ45Fk4Cf1Y5Dpnlms2B0J5UgGEUmM1Z/wHWH086gml3jWIUv8SsDmPhHM8WMY2O9Ou+zus2FkL290q9t7VsASywMqknlufOkMqcb0qLlqeF69KlETRk8aMp/4higLG8OFpN/IVK2yimbUxHQOx12ty1xAUijK8IKJyA9fXnmtTHC1swx4oxyYb4HrXM/w6gv7jV3ay4RHw/53HybyHvmurWztG4huV4Xxkb8x6edc7LGn4dHjv6D5Le1uYcSqrp5kbVCiahp4Pwdwzx9I5gTw+x50VHagyccTFc8wNwanmJWMqd/WqkaKKz+LTuOG4tGVuvBgg/U1h+2mkJqY+JtV4bhBttgsP0/0rchlYYPMedV95biQk8O/nU4T6shkx9lTPdiu0PxPZiXsvrr9480Aht3Y5yzEKE98kEe1dJ7TdmtN7SCzi1bjeCCUyLAr8IlbGBk89hnYEV8+drIbnTb60voXdII5Q5C80cHIb70b207cntLLot3ZyzQ3VnAe9K5Tgm4vmU+wBz61ui+6tHMnFxdM0X4x6XZ2Wp9nrKwsI7S0RZMd2oVG3BPLfIxvnzFZXsvGLjtvp8IAINzalsHJbEg3PrXu1Hau67X22jrd9xFf2JdWnZwiy8XDhuWx8O/TejexFnb6Z2qtNY1PV9JFu1xxMI7tWZDhiCQOQ2A9yKsqkQezs152q0qLtP8A4Y1NUV7i3Vo2lwY5S+QYznr5Z55xz58t/Er8NpNGaXV9BjeTTvmmgXdrf1HUp+49txQfijq9tq/bO7ubG4Se2CRJHJGcq2FGcfUmtz+GH4lLcCHQ+0c2ZCAlvdyH5+gRz5+R69fMqmvUNFrdr8H+BBXkW0tVP/vI/wDtUX4Zdo7Ttd2cm7N62qzXMUJjKv8A9/DyBz+pdgTz5GrD8YZYrL8PZre3VEieWGFEUYAUMGwB7LXFewMk0fbPRfh5Gjka9jXiU4OCwDD2IJpJWgZ1fsn+E9tpOt3F/rMsd1bW8hNnGeTAbh5By28uWRmsT+LnaK01/tFH/D5e9tbSHulcDZ24iWIPUch9K3v46ajc2nZ+ytred4lu52WZVOONAucH0yRtXB2fxZPvTj/WDPTEB1XyFMx6io5H4mJ86ZxetOwNH2I1SXTdRSGJGf4kqpC7EHof5103RHF1C0mpRkXjMxZXJJToMeWwrlHZq7h0zXLW5v0cRITkHoSMA12W2n07UrUSwyjJ5Op5Vkz/AOvDbx/V6SRmSLhYMZADuvmKSWdj4jlfSoonaHKF0O+zE8/UVA/GW4lcMOu+1Zao1Jj2kBJYrgnmaixxtTTIxPDsT6U8MxODn6UmSQLqOmRXtuySLxBhggjaua9qOzUmlMLmyYLCzcJjLcifLzFdfQx93jI5delcw7bahLqOop3aEWseVhyPm82+uPsK0cbu5eaM3K6dbezKM5jYJOrRPgHhcY2PWnmrMtcXGn/B3YeaCM5jD5DRc/lPlufCdueOdU9wnwbKOMSwN8kgXHuCOmK32c4fSYrwYHcHIrxNADuMlcEnHlmljkeKRZInZHU5VlOCD5gimUhNAB15quoX8UcV9f3VykZzGJp2cL54yTiq/Oc70pOFP7Uxzw4HnQwEam8XqtLgkZP2r3g8x+9RGdltY45l4ZYlceTjiH70VHoVivjtY2tZDvm3PCD7r8v7UlqmMUeGwlcmLZ2JRRR366raDig+Hu0GxVsxv/qD+1Uy9p4RMY720ezfqCuf5VpL+YBCdq5drt0LnVJtwe7wta8UVPxmTM3BWmbhO02ljZLtFPU4NWWnahDfDitrqGbHMK2CK5J1p8U0kDiSGRkkXdWXmKtlxoteFUeVJP1HS+1OpzW0aWNqGWSZeJ35YXPIZ5k+nKq7UdJu7jsympuZHBfgZhFlIlHLJx1yBn/pWQm1C51J7ZdR1CVSsZSJyMhFBJxty3ycirewvtf0mwm/h2oSS2OD3sPfcSEZxyJ2NTxQWONIqyzeSVsCunvJxFGkfAIkOETJU8ssOuTgZHoNqd2f7PHV5JhMrLbRDxkbbnkB/f8AOidM1Ce5vbSG2t4wSpVFVcFixyWPltj0AFdL03TYLGxWCMKWJLOwHzE/3+1Qz5ekaWy3jYu8vdHHtX7OXmkEvEDPbZySB4l+lViSK4yD9PKu1Xlgr8QK5rG652SgnPe24ME2fmQbH3FU4uV+SLsvE/YmKzTDzo680fUbJiJIu9Ufnj5/agOIAkbg+R2P2rYpxloxSg47Fxl1HQbmrns9ob6xqSxNxrbKMySAdB0B8zyobQNMl1bUVtoevzN+kdT+9dV03T49PRLOyC9zEMyuRnjPlVWXL1VLZdhw9nb0Zleyukxak6JE8sQwVWRyQP61a/4a0f8A8Nt/+SjpWSa/448lQMFvM53ov7Vilklezf8AFBfglu4zsd6nd8LzqjjdgAQeYzRNvO8kBLHcHFVVRZsD1e6EccjMcKFzXKYXee4nnJ8LsTW57ayumlzcJxk4rEQDhtVx+nNdDjryzncl26JA1eJqHOwp7HFaTNQdbG0uWSG/doE4triNeIp7jqKM1KwNlKxt9Vhe0JwkqAq8i+fD655Z6VSFjwA+tKB1qLVjs6R2S0oWMIvpY/8APmUcIbmi7fucA/atbby8RAJxWM7F6hcXOnmOdg4jYopPPG1aTiKN4TXNy329OrhroqLnCyjGwoK4tAwJxmpLd2Yb0aAO7qqi26M3c2AP186z2o2GmXmFnij2VRxKw4skLkb7jHiO2c59K3dwitkEAjlVdc2cZmLlmLluIttknOc8qSTvdEZxUvwyei21nos0q2krlpVAJfB4B5jh3GB035+uKuDrsREaMY0t8/KhHi2XbOd9yc9dvsTPaRlWBLHCjy/p6mq+4DJMZVfD7ZYIoJwcjpU67O7K666Q2yvVaVREXYnGFCg8yR0JI6c/P1q1+KH6xVDBdXCyfDGZ2iCcSqx5fl/l/M0Z3ren2ocUiUZM/9k=
Pelawak bernama asli Edi Supono ini sering disamakan dengan Ariel peterpan. Karier Parto bersama group lawaknya Patrio sudah cukup lama di dunia hiburan sehingga membuat namanya banyak dikenal. Meski sudah tidak tampil lagi bersama group lawaknya, Parto masih eksis di dunia komedi. Cara bicara Parto yang meniru logat orang Tegal membuatnya dipercaya untuk ditunjuk sebagai dalang di acara Opera Van Java TRANS7. Tahukah Anda bahwa Parto tidak bnar-benar menggunakan logat Tegal dalam kesehariannya. Parto juga bukan pelawak asal Tegal.

7. Olga Syahputra
http://www.tribunnews.com/foto/bank/images/olga_syahputra.jpg
Dengan penampilannya yang kewanita-wanitaan, KPI pernah menyinggung penampilannya. Walaupun bukan sebenarnya bencong, banyak orang mengira kalau dirinya adalah bencong. Olga pernah mengatakan bahwa itu semua hanya sekedar akting. Olga juga pernah mengatakan kalau di depan kamera seperti itu, tetapi kalau sudah masuk kamar, Olga sering merenung bahkan menangis. Olga juga seperti para pria lainnya yang ingin merasakan cinta dengan seorang wanita. Ia sempat menceritaan kisah cintanya di acara Hitam Putih TRANS7.

Senin, 25 April 2011

Inilah Pesawat Tempur (Stealth) Buatan Indonesia Pertama


kfx 201 konsep

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengatakan, Indonesia menjajaki pengembangan pesawat tempur generasi 4,5. “Kalau F-16 itu generasi ke 4, kalau F-35 buatan Amerika itu generasi 5, ini ditengah-tengahnya, Sukhoi itu masih generasi 4,” katanya di sela perhelatan Bandung Air Show.

Proyek pembuatan
Pesawat jet tempur KFX sendiri sebetulnya merupakan proyek lama Republic of Korea Air Force (ROKAF) yang baru bisa terlaksana sekarang. Proyek ini digagas presiden Korea Kim Dae Jung pada bulan Maret 2001 untuk menggantikan pesawat-pesawat yang lebih tua seperti F-4D/E Phantom II dan F-5E/F Tiger. Dibandingkan F-16, KFX diproyeksi untuk memiliki radius serang lebih tinggi 50 persen, sistim avionic yang lebih baik serta kemampuan anti radar (stealth).

Pemerintah Korea akan menanggung 60 persen biaya pengembangan pesawat, sejumlah industri dirgantara negara itu di antaranya Korean Aerospace Industry menanggung 20 persennya .pemerintah Indonesia 20 persen dan akan memperoleh 50 pesawat yang mempunyai kemampuan tempur melebih F-16 ini dan 100 pesawat untuk korea. Total biaya pengembangan selama 10 tahun untuk membuat prototype pesawat itu diperkirakan menghabiskan dana 6 miliar US Dollar.Pemerintah Indonesia akan menyiapkan dana US$1,2 miliar.

Penandatanganan nota kesepahaman (MOU) antara Indonesia-Korsel itu sudah dilakukan pada 15 Juli 2010 yang lalu di Seoul-Korea Selatan.diharapkan pada tahun 2020 Sudah Ada Regenerasi Pesawat Tempur untuk kedua pihak


Berikut Spesifikasinya:


  • KFX Spec:
  • Crew: 1
  • Thrust: about 52,000lbs (F414 class x 2)
  • Max Speed: about Mach 1.8
  • Armament:
  • M61 Vulcan
  • AIM-9X class short-range AAM(AIM-9X class) (indigenous, under development)
  • AIM-120 class beyond visual range AAM (not specified yet)
  • 500lbs SDB class guided bomb|KGGB (indigenous)
  • JCM class guided short range AGM (indigenous, under development)
  • SSM-760K Haeseong ASM (indigenous)
  • Boramae ALCM (indigenous, under development), or Taurus class ALCM
  • supersonic ALCM (based on Yakhont technology) (indigenous, under development)


Desain




Mengapa PT DI tidak membuat sendiri
Membuat pesawat tempur jauh lebih kompleks dari pada membuat pesawat penumpang karena ada tambahan sistem dalam sebuah pesawat tempur yaitu sistem kontrol senjata pada sistem avioniknya, disamping sistem mesin pendorong, sistem radar, dan struktur pesawat yang harus dirancang lebih kuat namun tetap lincah bermanuver di udara. Pesawat tempur KFX ini dirancang untuk masuk dalam kelompok pesawat tempur generasi 4,5 yang berarti harus mempunyai 6 kemampuan yaitu

  • kemampuan pesawat tempur untuk melakukan manuver ekstrim agar mendapat posisi serang paling menguntungkan (Air Combat Manuverability).
  • Pesawat tempur harus bisa terbang lincah sehingga harus menggunakan teknologi fly by wire untuk kontrol penerbangannya.
  • Penggunaan teknologi trust vectoring nozzles yang mampu mengubah-ubah arah semburan gas buang mesin jet agar pesawat tempur mempunyai kemampuan terbang dalam kecepatan rendah dan mampu melakukan belokan tajam.
  • Kemampuan untuk terbang jelajah pada kecepatan supersonik dalam waktu yang lama.
  • Radar pesawat tempur berkemampuan menjejak target diluar batas cakrawala atau beyond visual range
  • Kemampuan menyerap dan membiaskan pancaran radar atau teknologi stealth

Jadi bisa dibayangkan seandainya PT. Dirgantara Indonesia dilibatkan dalam pembuatan pesawat tempur ini maka akan ada penguasaan teknologi kedirgantaraan baru paling tidak untuk pembuatan 50 pesawat tempur KFX yang akan dibeli Pemerintah Indonesia nantinya dari keikutsertaannya membiayai proyek ini. Penguasaan teknologi baru di bidang pembuatan pesawat tempur generasi 4,5 ini dapat menjadi modal dasar bagi PT. Dirgantara Indonesia untuk membuat pesawat tempur sendiri kelak dikemudian hari.

Jadi untuk teknologi PT DI memang belum mampu untuk membuat secara mandiri. Selain ini butuh modal besar untuk melakukan riset sendiri namun jika besama korea maka teknologi kita akan dapatkan dengan sendirinya dan kelak dapat dikembangkan lagin untuk membuat pesawat tempur ciptaan sendiri. 

Kamis, 21 April 2011

Biography of Raden Ajeng Kartini

Raden Ajeng Kartini (1879-1904) is credited with starting the move for women's emancipation in Java, an island then controlled by Holland as part of the Netherlands Indies (now Indonesia). Born to the aristocracy, Kartini was privileged to be able to attend Dutch colonial schools, but was forced to quit at an early age due to Islamic law at the time. At the age of 24, she was married to a man twice her age who already had three wives. Kartini wrote letters to her friends in Holland protesting the treatment ofwomen in Java, the practice of polygamy, and of the Dutch suppression of the island's native population. Decades later, the Indonesian state constitution promised gender equality to all its citizens, and Kartini Day continues to be celebrated on April 21 to commemorate Kartini's contribution to women's rights.
Kartini was born on April 21, 1879, in Mayong village near of Jepara, a town located in the center of the island of Java. She was born into the Javanese priyayi, or aristocracy; her father was Jepara mayor Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Kartini was one of 12 children born to Raden's several wives.
Educated at Dutch Schools
As a child, Kartini was very active, playing and climbing trees. She earned the nickname "little bird" because of her constant flitting around. A man of some modern attitudes, her father allowed her to attend Dutch elementary school along with her brothers. The Dutch had colonized Java and established schools open only to Europeans and to sons of wealthy Javanese. Due to the advantages of her birth and her intellectual inclination, Kartini became one of the first native women allowed to learn to read and write in Dutch.
Despite her father's permission to allow her a primary education, by Islamic custom and a Javanese tradition known as pingit, all girls, including Kartini, were forced to leave school at age 12 and stay home to learn homemaking skills. At this point, Kartini would have to wait for a man to ask for her hand in marriage. Even her status among the upper class could not save her from this tradition of discrimination against women; marriage was expected of her. For Kartini, the only escape from this traditional mode of life was to become an independent woman.
Promoted Nationalist Movement
Fearful of losing control over their island territory, the Dutch colonialists believed that knowledge of European languages and education could a be dangerous tool in the hands of the native Javanese. Consequently, they suppressed the activities of the native people, keeping them as peasants and plantation laborers, while at the same time counting on the Javanese nobility to support them in their rule over the region. Only a few of the nobility, Kartini's father included, were taught the Dutch language. Kartini believed that once the Europeans introduced Western culture to the island, they had no right to limit the desire of native Javanese to learn more. Clearly, by the late nineteenth century there was talk of independence. With her letters and her egalitarian fervor, Kartini can be said to have started the modern Indonesian nationalist movement.
Kartini was not proud of being set apart from her countrymen as one of the privileged few of the aristocracy. In her writings she described two types of nobility, one of mind and one of deed. Simply being born from a noble line does not make one great; a person needs to do great deeds for humanity to be considered noble.
Wrote Letters to Holland
From 1900 to 1904 Kartini stayed home from school in according to the dictates of Javanese tradition; she found an outlet for her beliefs in letters she wrote in Dutch and sent to her friends in Holland. Kartini was unique in that she was a woman who was able to write; what set her apart even further was her rebellious spirit and her determination to air concerns that no one, not even men, were publicly discussing.
Kartini wrote to her European friends about many subjects, including the plight of the Javanese citizenry and the need to improve their lot through education and progress. She recounts how Javanese intellectuals were put in their place if they dared to speak Dutch or to protest. She also describes the restrictive world she lived in, rife with hierarchy and isolationism. In 1902 Kartini wrote to one letter, to Mrs. Ovink-Soer, that she hoped to continue her education in Holland so that she could prepare for a future in which she could make such education accessible to all women.
Kartini is most known for writing letters in which she advocates the need to address women's rights and status, and to loosen the oppressive Islamic traditions that allowed discrimination against women. She protests against education restricted to males of the nobility, believing that all Javanese, male and female, rich and poor, have the right to be educated in order to choose their own destiny. Women especially are not allowed to realize their calling. As Nursyahbani Katjasungkana commented in the Jakarta Post, "Kartini knew and expounded the concept that women can make choices in any aspect of their lives, careers, and personal matters."
Opened School for Girls
Rather than remaining submissive and compliant, like a good Javanese daughter, the unconventional Kartini often had disagreements with her father, and it is believed that her family was, consequently, eager to marry her off. On November 8, 1903, she obeyed her father and married Raden Adipati Joyoadiningrat, the regent of Rembang. Joyoadiningrat was a wealthy man of age 50 who already had three wives and a dozen children. Kartini - who was, at 24 years of age, considered too old to marry well - found herself a victim of polygamy. She was devastated by the marriage, which ended her dream of studying abroad just as she was awarded a scholarship to study in Europe.
Despite the marriage, in 1903 Kartini was able to take a first step toward achieving women's equality by opening a school for girls. With aid from the Dutch government Kartini established the first primary school in Indonesia especially for native girls regardless of their social standing. The small school, which was located inside her father's house, taught children and young women to read and make handicrafts, dispensed Western-style education, and provided moral instruction. At this time, Kartini also published the paper "Teach the Javanese."
Kartini's enthusiasm at educating Indonesian girls was short lived. On September 17, 1904, at the age of 25, she died while giving birth to her son. Kartini is buried near a mosque in Mantingan, south of Rembang.
Letters Ultimately Published
Kartini's legacy is found in the many letters she wrote to friends in Holland. In 1911 a collection of her Dutch letters was published posthumously, first in Java and then in Holland as Door Duisternis tot Licht: Gedachten Over en Voor Het Javanese Volk ("From Darkness to Light: Thoughts about and on Behalf of the Javanese People"). The book was then translated into several languages, including French, Arabic, and Russian, and in 1920 was translated by Agnes Louis Symmers into English as Letters of a Javanese Princess. In 1922 Armijn Pane finally translated the book into the Javanese language under the title Habis Gelap Terbitlah Terang ("After Darkness, Light Is Born"), which he based on a verse found in both the Bible and the Qur'an in which God calls people out of the darkness and into the light. More recently, Kartini'sgranddaughter, Professor Haryati Soebadio, re-translated the letters and published them as Dari Gelap Menuju Cahaya, meaning "From Darkness into Light."
Kartini's letters spurred her nation's enthusiasm for nationalism and garnered sympathy abroad for the plight of Javanese women. Syrian writer Aleyech Thouk translated From Darkness into Light into Arabic for use in her country, and in her native Java Kartini's writings were used by a group trying to gain support for the country's Ethical Policy movement, which had been losing popularity. Many of Kartini's admirers established a string of "Kartini schools" across the island of Java, the schools funded through private contributions.
Kartini's beliefs and letters inspired many women and effected actual change in her native Java. Taking their example, women from other islands in the archipelago, such as Sumatra, also were inspired to push for change in their regions. The 1945 Constitution establishing the Republic of Indonesia guaranteed women the same rights as men in the areas of education, voting rights, and economy. Today, women are welcome at all levels of education and have a broad choice of careers. Kartini's contributions to Indonesian society are remembered in her hometown of Jepara at the Museum Kartini di Jepara and in Rembang, where she spent her brief married life, at the Museum Kartini di Rembang.
Kartini Day Declared National Holiday
In Indonesia, April 21, Kartini's birthday, is a national holiday that recognizes her as a pioneer for women's rights and emancipation. During the holiday women and girls don traditional clothing to symbolize their unity and participate in costume contests, cook-offs, and flower arrangement competitions. Mothers are allowed the day off as husbands and fathers do the cooking and housework. Schools host lectures, parades are held, and the women's organization Dharma Wanita specially marks the holiday.
In more recent years criticism has arisen regarding the superficial observance of Kartini Day. Many now chose not to commemorate it, and it has increasingly been eliminated from school calendars. What saddens historians and activists is that Kartini has become a forgotten figure for the younger generation, who cannot relate to the achievements she wrought in a repressive society that is now almost forgotten. Historians have also debated the role Kartini herself played in promoting women's emancipation. Other than her letters, some have argued that she was a submissive daughter, feminine but not necessarily a feminist.
A Legacy in Film
The film biography R. A. Kartini was produced to highlight her efforts to promote women's emancipation and education. Based on her published letters as well as memoirs written by friends, the film presents the two aspects of Kartini's life: her brief public life which had minimal effect, and her letters which, after her death, had profound influence on women all over the world. The film, written and directed by Indonesian filmmaker Sjuman Djaya, recreates Kartini's family life, ambitions, and the historical context of life under Dutch colonialism. Kartini is also remembered through businesses inspired by her vision. Kartini International, based in Ontario, Canada, advocates for women's education and rights, and won the 2000 Canadian International Award for Gender Equality Achievement for its work.
Books
Kartini, R. A., Letters from Kartini: An Indonesian Feminist, 1900-1904, Monash Asia Institute, 1994.
- , On Feminism and Nationalism: Kartini's Letters to Stella Zeehandelaar, 1899-1903, Monash Asia Institute, 1995.
Palmier, Leslie, Indonesia, Walker & Co., 1965.
Periodicals
Jakarta Post, April 21, 2001; April 20, 2002.
Online
Chaniago, Ira, "Raden Ajeng Kartini - A Pioneer of Women's Education in Indonesia," University of New England Web site,http://www.une.edu.au/unepa/Gradpost/gp_9.3web.pdf (December 23, 2003).
Discover Indonesia Online,http://indahnesia.com/Indonesia/Jawa/ (December 23, 2003).
Monash Asia Institute Web site,http://www.arts.monash.edu.au/mai/ (December 23, 2003).

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews